Selasa, 07 Januari 2014

makalah mengenai kebudayaan lampung

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Terkait dengan urain di atas, maka untuk lebih memperdalam pengetahuan mengenai Ragam Kebudayaan di sini kita akan membahas sedikit mengenai Ragam Budaya Lampung pada khusus nya yang meliputi Sistem Kekerabatan, Sistem Religi, Organisasi Sosial, Sistem Mata Pencharian, dan Kehidupan Sosial Budaya yang berkembang di Masyarakat Lampung. 1.2 Batasan Masalah Karena cakupan kebudayaan yang begitu luas dan meliputi berbagai aspek kehidupan, maka kami hanya membataskan bahasan ini, hanya dari segi Sistem Kebudayaan, Sistem Religi, Organisasi Sosial, Sistem Mata Pencharian, dan Kehidupan Sosial Budaya dari Masyarakat Lampung. Serta perkembangnnya sampai dengan sekarang ini. 1.3 Tujuan Penulisan Makalah ini dibuat untuk dapat memenuhi tujuan-tujuan yang dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam pemahaman tentang Kebuayaan dari Masyarakat Lampung di Indonesia. Secara terperinci tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : 1. Mengetahui sampai sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang kebudayaan Lampung. 2. Mengetahui sampai sejauh mana perkembangan kebudayaan Lampung. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sistem Kekerabatan Suku-suku asli Lampung memperhitungkan garis keturunannya melalui kekerabatan Patrilineal. Kelompok kekerabatan ini didasarkan pada sistem kekerabatan masyarakat Lampung umumnya. Kekerabatan patrilineal yakni menghitung garis keturunan sealiran darah melalui satu ayah, satu kakek atau satu nenek moyang (laki-laki). Biasanya anak lelaki tertua dari keturunan yang lebih tua dapat memimpin serta bertanggungjawab terhadap anggota kerabatnya. Perhatian mereka terhadap silsilah asalnya sampai lebih dari lima generasi ke atas dan garis hubungan kekerabatan menunjukkan kepada buai asalnya. Format kekerabatan ini bergaris sebelah sesuai dengan garis keturunan laki-laki yang menjadi dasar sebuah kerabat. Dalam memperhitungkan garis keturunannya, keluarga suku asli masyarakat Lampung mengenal pula adanya saudara sekandung, anak dari saudara ayah-ibu, anak saudara kandung dan seterusnya. Untuk membuktikan kesatuan tersebut secara formatif mereka telah mempunyai susunan kekerabatan tersendiri yang berasal dari kakek-nenek terdahulu. Demikian pula dengan bapak dari ayah dalam suatu keluarga inti pasti memiliki kedudukan yang sama pentingnya bagi seorang individu. Tiap-tiap kelompok keluarga batih dalam lingkungan kerabat akan mempunyai kakek dan nenek yang ditengah garis keturunan mendasari tahap perkembangan suatu kekerabatan. Kedua kakek-nenek itu merupakan dasar keturunan bagi “saya”, saudara kandung dan anak dari saudara kandung maupun segaris keturunan lainnya. Dalam hubungan kekerabatan, bentuk jalinan keluarga yang rapat adalah keluarga batih; yang didalamnya terdiri dari suami, istri serta anak. Didalam rumah tangga keluarga batih ini sering pula terdapat anggota-anggota keluarga lain sekerabat seperti misalnya: ayah/ibu mertua, kakek/nenek, saudara, keponakan dan sebagainya. Hal ini bisa saja terjadi dalam suatu keluarga pada masyarakat pribumi Lampung. Keluarga batih Lampung memiliki sifat yang beragam. Ada yang telah mandiri serta memisahkan diri dengan orangtuanya (kakek-nenek dari anak mereka) tapi ada pula yang masih tinggal bersama dengan orang tua/mertua bahkan sebaliknya. 2.2 Sistem Religi Dahulu masyarakat kita pada dasarnya menganut sistem kepercayaan animisme dan dinamisme yaitu animisme adalah suatu kepercayaan terhadap ruh atau arwah-arwah nenek moyang, Kepercayaan-kepercayaan terhadap hal-hal gaib pada masa lampau (orang lampung menyebut zaman tumi) masih dapat dilihat pada upacara-upacara adat. Salah satunya adalah kepercayaan terhadap dewa-dewa namun sekarang Orang Lampung merupakan pemeluk Agama Islam. 2.3 Organisasi Sosial Sistem Perkawinan Perkawinan Bentuk perkawinan masyarakat Lampung dibedakan atas 2 bentuk, yaitu 1. Perkawinan biasa. Dalam perkawinan biasa seorang istri dan anak-anaknya menjadi anggota kelompok suaminya. Sebagai gantinya, suami diwajibkan memberikan mas kawin dan uang jujur (uang jojoh). 2. Perkawinan semanda. Dalam perkawinan ini, pihak keluarga laki-laki tidak membawa uang jujur, tetapi sang suami dan anak-anaknya menjadi anggota keluarga sang istri. Selain itu, dalam perkawinan pada masyarakat Lampung, ada larangan kawin antara orang-orang yang tidak sederajat. Sistem Kemasyarakatan Pada masyarakat Lampung Saibatin, pemimpin Saibatin disebut penyimbang sebatin. Sedangkan pada masyarakat Lampung Pepadun, dipimpin oleh penyimbang tiyuh. Beberapa tiyuh tergabung menjadi satu kesatuan lebih besar disebut buay atau kebuayan. Pada masyarakat Lampung Pepadun berlaku hukum adat yang didasarkan pada Piagam Adat Lampung Siwo Migo. Pelanggaran terhadap ketentuan adat dikenai sanksi berupa denda atau keharusan melaksanakan upacara adat. Kehidupan kemasyarakatan di atur dengan sistem kekerabatan yang bersifat Genealogis Patrilineal dimana pemarintahan dilakukan secara adat terutama yang mengatur sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, kehidupan sosial dan budaya. 2.4 Sistem Mata Pencaharian Orang Lampung pada umumnya hidup dari bercocok tanam. Dahulu, mereka mengerjakan ladang (umbulan) dengan sistem perladangan berpindah-pindah. Hasil pertanian yang terkenal antara lain kopi, lada, karet, dan cengkeh. Selain bercocok tanam, sejak dulu orang Lampung sudah mengenal usaha peternakan binatang yang diternakkan meliputi kerbau, sapi, kambing, dan unggas. Namun seiring berjalan nya waktu banyak juga yang berprofesi sebagai buruh jasa, pegawai negeri, karyawan swasta, dengan distribusi pekerjaan yang beragam dan gerak sosialnya relatif dinamis. Bagaimanapun perubahan distribusi mata pencaharian penduduk terkait dengan pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, perdagangan, teknologi industri, teknologi informasi, dan perubahan sosial karena adanya pembangunan. Meski pada setiap wilayah kabupaten dan kota memiliki keunggulan dari aspek ekonomi, ternyata dinamika dan perkembangan pasar menuntut warga masyarakat agar lebih responsif terhadap perkembangan yang cenderung semakin cepat dan kompleks. 2.5 Kehidupan Sosial Budaya Suku Lampung bisa diklasifikasikan dari segi geografis, ataupun kebudayaan. Dari segi geografis, suku Lampung terdiri dari sub suku Abung, yang tinggal di pegunungan. Sub suku yang lain adalah sub suku Pubian, yang tinggal di pedataran timur, dan sub suku Peminggir, yang tinggal di pesisir selatan. Orang Lampung hidup dari bercocok tanam, khususnya tanaman keras, seperti lada, coklat dan durian. Dari segi bahasa, suku Lampung bisa dibagi dalam dua dialek utama dengan delapan sub dialek. Bahasa Lampung berasal dari bahasa Melayu kuno. Dua dialek utama adalah dialek Nyou (dialek 'o') dan dialek Api (dialek `a'). Dialek Nyou bisa dibagi dalam dua sub-dialek, yaitu Abung dan sebagian dari dialek Tulangbawang. Dialek Api bisa dibagi dalam enam sub-dialek: Belalau, Peminggir (di pesisir selatan), Tulang bawang Hulu, Krui di pesisir barat, Pelinting dan Pubyian. Suatu pokok filsafat kehidupan orang Lampung disebut Pi-il Pesenggiri, yang artinya setiap orang Lampung harus menjaga muka diri sendiri sebaik mungkin. Orang Lampung biasanya hidup secara sederhana, namun gemar akan pujian, sehingga tak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk mengadakan pesta adat. Keinginan untuk dihormati itu terlihat walaupun masih kanak-kanak, orang Lampung memakai nama besar yang disebut Juluk atau nama tua/gelar yang disebut Adok (untuk laki-laki) dan Inai untuk perempuan setelah berumah tangga. BAB III Kesimpulan Seiring berjalan nya waktu, beberapa unsur kebudayaan Lampung mengalami pergeseran diantaranya unsur religi berupa perubahan agama yang dianut, yang dahulu dari kepercayaan Animisme, dinamisme dan Hindu menjadi mayoritas beragama Islam. Dari segi mata pencaharian juga mengalami perubahan, di karenakan teknologi yang semakin berkembang. Kalangan rakyat biasa dapat tampil menjadi pemimpin dan memegang kekuasaan. Orang Lampung juga sangat menghormati dan mematuhi hukum adat yang berlaku sebagai cerminan tingkah laku di jaman modern saat ini. Ini semua di karenakan budaya yang dapat terus bekembang dari zaman ke ke zaman, masyarakat dapat menjalankan dan mengembangkan budaya yang mereka anggap baik di lingkungan mereka masing-masing selagi masih sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. DAFTAR PUSAKA http://ragambudayanusantara.blogspot.com/2008/09/suku-lampung.html http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#Definisi_Budaya http://phunnypelupa.blogspot.com/2011/01/suku-lampung.html http://denybelalau.wordpress.com/2013/01/15/sistem-kepercayaan-masyarakat-lampung/ http://deskamardiana.blogspot.com/2009/12/sistem-kekerabatan-suku-lampung.html

Tidak ada komentar: